Faber castell bekerja sama dengan SD negeri Batursari 3, memberikan bimbingan keterampilan kepada anak-anak kelas 1-3. Anak-anak tampak bahagia, dan senang. Sekolah juga mendapatkan bingkisan dari faber castell. Terima kasih untuk tim faber castell....sukses untuk kalian!!!!
Jumat, 21 Juni 2013
MODEL PEMBELAJARAN PENCAPAIAN KONSEP
MODEL PEMBELAJARAN PENCAPAIAN
KONSEP-KONSEP
WAHYUNINGSIH RAHAYU, S.Pd, M.Pd.
I.
SKENARIO
Pencapaian
konsep merupakan proses mencari dan mendaftar sifat-sifat yang dapat digunakan
untuk membedakan contoh-contoh yang tepat dengan contoh-contoh yang tidak tepat
sebagai katagori.
Guru
menyusun naskah drama yang berisikan tentang kehidupan sehari-hari dengan
mengutamakan tanda baca yang tepat dalam
kalimat tanya, kalimat perintah. Bacaan dalam drama disediakan kalimat berita,
kalimat perintah, dan kalimat Tanya.
Siswa
secara kelompok diminta membaca materi drama. Setelah itu diajak Tanya jawab
untuk mencari jenis-jenis kalimat yang terdapat dalam naskah drama. Siswa
menyebutkan yang termasuk kalimat berita, kalimat Tanya, kalimat perintah.
Siswa
menuliskan kalimat-kalimat yang diminta guru dalam tugas kelompoknya. Siswa
melaporkan hasil tugas kelompok. Setelah itu guru menyediakan beberapa kalimat
secara acak yang termasuk kalimat perintah, kalimat Tanya, dan kalimat berita.
Guru melafalkan kalimat-kalimat tersebut dengan lafal dan intonasi yang kurang
tepat. Siswa diminta menjawab benar apa salah dari intonasi dan lafal yang
diucapkan guru.
Setelah
itu, siswa membacakan teks drama yang mengandung kalimat Tanya, kalimat seru,
dan kalimat berita dengan lafalt dan intonasi yang benar. Setiap siswa diberi
kesempatan untuk melakukan parktik membaca drama dengan cara yang benar. Setelah berulang-ulang mencoba
melafalkan, siswa menyimpulkan bagaimana cara membaca naskah drama dengan lafal
dan intonasi yang benar. Siswa menguasai
konsep kalimat berita, kalimat perintah, dan kalimat Tanya dan cara
melafalkannya.
II.
URAIAN KOMPONEN
A.
SINTAKS
Tahap-tahap
pembelajaran:
1.
Melibatkan penyajian data pada
pembelajar. Dalam penyajian data ini, guru menyiapkan materi yang sesuai dengan
standar kompetensi dan kompetensi dasar. Materi-materi disiapkan untuk siswa
agar dapat belajar menguasai konsep-konsep dengan mudah. Materi juga diperjelas
denga pemanfaatan media apabila diperlukan sesuai dengan karakteritik materi
maupun siswa.
2.
Siswa menguji penemuan konsep mereka,
pertama-tama dengan mengidentifikasi secara tepat contoh-contoh tambahan yang
tidak dilabeli dari konsep itu dan kemudian dengan membuat contoh-contoh. HAsil dari menguji penemuan konsep adalah
siswa mampu menerapkan konsep-konsep yang mereka kuasai untuk kegiatan belajar
yang lebih kompleks.
3.
Siswa menganalisis strategi-strategi
dengan segala hal yang mereka gunakan untuk mencapai konsep. Dari materi yang dipelajari siswa, diharapkan
siswa memiliki cara-cara yang efektif untuk menyelesaikan masalah berdasarkan
konsep yang telah dikuasainya.
B.
SISTEM SOSIAL
Untuk
penemuan konsep, dengan menerapkan prosedur-prosedur kooperative. Kegiatan
pembelajaran dapat dilakukan secara kelompok atau bersama-sama. Kelompok dapat
berupa kelompok kecil maupun kelompok besar untuk menyelesaikan masalah.
C.
PERAN GURU
Peran
guru dalam model ini:
1.
Guru menyajikan contoh-contoh tambahan
seperlunya.
2.
Tugas penting guru yaitu:
mencatat/merekam, membisikkan (isyarat), dan menyajikan data tambahan.
3.
Guru harus bersikap simpatik pada
hipotesis yang satu dengan hipoteisis lain.
4.
Fokus pada padasifat-sifat atau fitur-fitur tertentu
dalam contoh-contoh yang ada.
5.
Mendampingi siswa dalam mendiskusikan
dan mengevaluasi strategi berpikir mereka.
D.
SISTEM PENDUKUNG
Konsep-konsep
yang sebelumnya telah dikuasai siswa serta dipilih oleh guru, materi-materi
yang telah terpilih dan dikelola dengan cermat dan teliti, data-data yang
berbeda sebagai contoh.
E.
DAMPAK INSTRUKSIONAL DAN PENGIRING
Dampak
instruksional yang diharapkan dengan model
ini adalah: menyediakan praktik dalamlogika induktif, dankesempatan-kesempatan
untuk mengubah danmengembangkan strategi-strategi membangun konsep yang
dimiliki siswa, sifat konsep, konsep
system konseptual, dan penerapannya,
strategi-strategi pembelajaran konsep.
Dampak pengiring
dari model ini adalah: fkesibilitas konseptual, pemikiran induktif, dan toleran
pada ambiguitas, serta tertanamnya nilai-nilai pendidikan karakter.
Kamis, 20 Juni 2013
KODE DAN ALIH KODE
KODE,
ALIH KODE, DAN CAMPUR KODE
Kelompok
V (Wahyuningsih Rahayu, S.Pd,M.Pd
A. KODE
Suatu sistem struktur
yang penerapan unsur-unsurnya mempunyai
ciri-ciri khas sesuai dengn latar belakang penutur, relasi penutur dalam berkomunikasi antara individu
disebut dengan kode. Kode dapat
didefinisikan menurut suatu sistem tutur
yang penerapan unsur bahasanya mempunyai crri khas sesuai dengan latar belakang,
penutur, relasi penutur, dengan lawan bicara dan situasi tutur yang ada. Kode
biasanya berbentuk varian bicara yang selalu nyata dipakai berkomunikasi
anggota suatu masyarakat bahasa (Poedjosoedarmo, 1978:30). Ada juga ahli yang mendefinisikan kode merupakan
salah satu varian di dalam hierarkhi kebahasaan yang dipakai dalam komunikasi.
Dengan demikian dalam sebuah bahasa dapat terkandung beberapa buah kode yang
merupakan varian dari bahasa itu (Suwito, 1983: 67). Wardhaught (1988:86) mengemukakan bahwa kode
adalah semacam sistem yang dipakai oleh dua orang atau lebih untuk
berkomunikasi, kode itu bersifat yang netral.
Dikatakan netral karena kode itu tidak memiliki kecenderungan
interpretasi yang menimbulkan emosi.
Kode berbentuk varian
bahasa. Varian bahasa menurut deskripsi dari Poedjosoedarmo (1978:31-32) meliputi dialek, undha usuk, dan ragam. Dialek dapat
dibedakan lagi menjadi dialek geografi, sosial, usia, jenis kelamin, aliran,
dan mungkin suku. Undha-usuk atau tingkatan tutur dibedakan menjadi dua, yaitu
tutur hormat dan tidak hormat. Sedangkan ragam dapat dibedakan dalam hal ragam
suasana (resmi, santai, dan literer), dan ragam komunikasi (komunikasi ringkar
dan komunikasi lengkap). Kode selalu memiliki makna. Dalam bahasa Jawa tingkat undha
usuk karma memiliki makna sopan, sedangkan tingkat ngoko memiliki makna kurang
sopan. Ragam santai memancarkan makna santai sedangkan ragam formal juga
mengandung makna resmi.
Dalam sebuah kode
terdapat beberapa unsur bahasa seperti kalimat, kata, morfem, dan juga fonem
yang pemakaiannya dikendalai oleh semacam pembatasan umum (concurrence
restriction) yang berupa factor-faktor luar bahasa atau factor non linguistik.
Factor-faktor itu disebut juga dengan komponen tutur. Dalam masyarakat eka
bahasa (monolingual) kode hanyalah berupa varian dari satu bahasa itu saja,
tetapi bagi masyarakat multilingual atau
bilingual kode dpat lebih kompleks daripada masyarakat monolingual. Tingkat
tutur dapat dikatakan merupakan sistem kode dalam suatu masyarakat tutur. Kode dalam jenis ini faktor penentunya adalah
relasi antara si penutur dengan si mitra tutur. Pada umumnya di dalam sebuah
bahasa terdapat cara-cara tertentu untuk menetukan perbedaan sikap hubungan
antara penutur dn mitra tutur dalam bertutur. Contohnya: Dalam bahasa Indonesia
kata-kata istana, putera, bersabda, menganugerahi, dll, untuk menunjuk rasa
hormat. Dalam bahasa Jawa menggunakan kata “panjenenganipun” yang berarti dia
sebagai ungkapan rasa hormat pada seseorang. Untuk meminta sesuatu orang Jawa
sering mengatakan dengan ucapan “Wah, katese sampun ketingal kuning-kuning,
Pak!” dapat diartikan bahwa sebenarnya seseorang itu menginginkan papaya
(kates) yang sudah masak. Orang yang memiliki pohon pepata tanggap ing sasmita
(paham dengan apa yang tersirat), dia akan menjawab, “ Lha mangga menawi
ngersake kula pendetke!”. (Kalau mau saya petikkan).
Kode dalam tingkat tutur misalnya:
Pembeli: “Niko, pinten?”
Ini berapa
Penjual:”Niko Sekawan setengah”
Itu empat ribu lima ratus.
Pembeli: “Menawi niko?”
Kalau yang ini?
Penjual : “Menawi niko pitungnewo!”
Kalau yang itu tujuh ribu.
Kata “niko” merupakan
bentuk ringkas dari puniko. “Niko
pinten” merupakan bentuk ringkas dari
“meniko pinten reginipun ini” atau “ini berapa harganya?”. Kata Menawi niko bentuk ringkas dari “Menawi
meniko regenipun pinten?” atau “Kalau yang ini berapa harganya?”
ALIH
KODE
Kode dapat beralih dari
varian yang satu kepada varian yang lainnya. Peralihan kode dapat kmengarap
dari yang formal ke kode yang informal, dari yang paling hormat ke paling tidak
hormat, atau dari kode yang lengkap menjadi kode yang tidak lengkap.
Alih kode merupakan
peristiwa pergantian bahasa yang digunakan dalam percakapan dari ragam santai menjadi ragam resmi, atau dari ragam resmi ke
ragam santai. Menurut Appel (2976: 79) mendefinisikan alih kode sebagai gejala
peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi, sedangkan Hymes
(1875:103) menyatakan bahwa alih kode itu bukan hanya terjadi antar bahasa,
tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam
suatu bahasa “code switching has become a common term for alternate us of two or more
langunge, variasties of language, or even speech styles”.
Suwito dalam Rahadi
(2010: 24) menyatakan bahwa alih kode merupakan istilah umum untuk menyebut
pergantian atau peralihan pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa variasi
dari satu bahasa, atau bahkan beberapa gaya dari suatu ragam. Dijelaskan pula
bahwa alih kode intern (internal code switching) yang terjadi antara bahasa
daerah atau antara beberapa bahasa nasional, antardialek dalam satu bahasa
daerah, atau antara beberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam suatu dialek.
Sedangkan kode ekstern (external code
swirching) adalah apabila yang terjadi adalah bahasa asli dan bahasa asing.
Poerdjosoedramo dalam
Rahardi (2010:24) menyatakan bahwa seseorang sering mengganti kode bahasanya
pada saat bercakap-cakap. Pergantian itu dapat disadari atau bahkan mungkin
tidak pula disadari oleh penutur. Gejala alih kode semacam ini timbul karena
faktor komponen bahasa yang bermacam-macam. Alih kode dalam habasannya terdapat
istilah alih kode sementara (temporary code switching) yakni pergantian kode
bahasa yang dipakai oleh seorang penutur yang berlangsung sebentar atau
sementara. Sedangkan alih yang sifatnya permanen (permanent code switshing)
merupakan peralihan bahasa yang berlangsung secara permanen, kendati sebenarnya
hal ini tidak mudah dilakukan.
Penyebab
terjadinya alih kode dalam
sosiolingistik menurut Fishman (1976:15) yaitu:”siapa berbicara, dengan bahasa
apa, kepada siapa, kapan, dan dengan tujuan apa”. Sedangan menurut kepustakaan
linguistic penyebab terjadinya alih kode adalah: 1) pembiaca atau penutur, 2)
pendengar atau lawan tutur, 3) perubahan
situasi dengan hadirnya orang ke tiga, 4) perubahan dari formal ke informal atau
sebaliknya, 5) perubahan topik pembicaraan.
Seorang pembicara atau
penutur sering kali melakukan alih kode untuk keuntungan atau manfaat dari tindakannya itu. Misalnya Pak
Aldo setelah beberapa saat berbicara dengan Pak Bimo mengenai gunung Merapi dengan bahasa Jawa, karena mereka sama-sama berasal dari suku
Jawa. Tujuan dari pembicaraan itu agar saling mengerti dan lebih mudah memahami
isi pembicaraan. Contohnya:
Pak Aldo :”Wah, Merapi mbedhos malih
nggih, Pak!”
(Wah, Merapi meletus lagi ya,
pak!)
Pak
Bimo:”Inggih Pak. Malah mledose langkung ageng. Kathah kerugian bondho donya Pak!”
(Inggih, Pak. Meletusnya
lebih dasyat, banyak korban harta benda)
Penyebab alih kode dari
segi lawan bicara atau lawan tutur, misalnya karena si penutur ingin
mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan
tutur itu. Dalam hal ini biasanya biasanya kemampuan berbahasa si lawan tutur
kurang atau agak kurang karena memang mungkin bukan bahasanya pertama.
Apabila lawan tutur itu berlatar belakang sama
dengan penutur maka alih kode yang terjadi hanya berupa alih kode yang terjadi hanya berupa peralihan varian
(baik regional maupun sosial), ragam, gaya, atau register. Apabila si lawan
tutur berlatar belakang bahasa yang tidak sama dengan si penutur , maka yang terjadi adalah alih bahasa. Kehadiran
orang ketiga atau orang lain yang tidak
berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan
oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Status
orang ketiga dalam alih kode juga menentukan bahasa atau varian yang harus
digunakan.
Contoh: Pembicaraan di
Kampus
Topik : Tugas Kuliah
Sebab Alih Kode :
Kehadiran Ninda dari Sumatera
Dinda : “Piye Nes, tugase Prof. Dandan
wis rampung?”
Fanes : “Wis, aku nulis nganti jam
sepuluh bengi!
Ketika mereka
bicara datanglah Rotua.
Dinda :”Kamu sudah mengerjakan tugas Prof
Dandan?
Perubahan situasi
bicara dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Misalnya dari situasi formal ke
ragam santai.
Contoh: Percakapan guru
dikantor
Bu Ani :”Apakah Ibu sudah membuat RPP untuk
minggu ini?”
Bu Sinta :”Oh, sudah. Ini bukunya!”
Bu Ani :”Panjenengan
panci sregep, Bu. Lha Bapak punapa sampun dhangan!”
CAMPUR KODE
Antara alih kode dan
campur kode hamper sukar memang sukar dibedakan. Maka beberapa orang menganggap
sama antara keduanya. Kesamaan antara alih kode dan campur kode adalah
digunakannya dua bahasa atau lebih,
atau varian dari sebuah bahsa dalam satu masyarakat tutur.
Thelander (1976: 103)
menjelaskan perbedaan alih kode dan campur kode. Alih kode menurutnya adalah
suatu peristiwa tutur terjadi peralihan
dari satu klausa suatu bahsa ke klausa bahasa lain, sedangkan apabila di dalam
suatu peristiwa tutur terjadi klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan
terdiri dari klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsinya
sendiri-sendiri maka terjadi campur kode.
Fosald (1984) menawarkan
criteria gramatika untuk membedakan campur kode dari alih kode. Apabila
seseorang menggunakan satu kata atau frase dari satu bahasa, dia telah
melakukan campur kode. Tetapi apabila klausa jelas-jelas memiliki struktur gramatika satu bahasa, dan satu klausa
berikutnya disusun menurut gramatika bahasa lain, maka yang terjadi adalah alih
kode. Tetapi apabila satu klausa jelas-jelas memiliki struktur gramatika bahasa
lain maka yang terjadi adalah alih kode. Untuk Menjelaskan keterangannya
itu Fasold memberikan contoh campuran bahasa Spanyol dan bahasa Inggris yang
diangkat dari Labov (1971: 457)
-
Y cuando estoy con gonte me borrocha
porque me seinto
(dan
ketika saya dengan orang saya mabuk sebaba saya merasa)
-
Mas happy, mas free, you know, pero is yo estoy con mucha.
Lebih bahagia, lebih bebas, tahu
kan, tetapi saya dengan banyak.
-
Gente yo no estoy, you know, high, more
or less
(orang saya tidak, tahu kan,
tinggi, kira-kira)
-
I couldn’t get along with anybody
(saya tidak bisa bergaul dengan
siapa pun)
Berdasarkan kriteria kegramatikan, maka dari
awal sampai kata pero merupakan serpihan bahasa Spanyol. Kata-kata happy, free,
dan you know dipinjam dari bahasa Inggris. Lalu, pernyataan high dan more or
less adalah bahasa Inggris. Klausa berikutnya sepenuhnya dalam bahasa Inggris,
baik dalam kosakata maupun gramatika. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bagian awal
teks di atas sampai dengan ungkapan more or less yang berupa if-clause adalah
bahasa Spanyol yang bercampur bahasa
Inggris. Alih kode kedalam bahasa Inggris baru dimulai dengan kata I, meskipun
di depannya ada empat buah bahasa Inggris.
Contoh
ke dua yang di kemukakan Fasold di angkat dari Velma (1976:158) yang melibatkan
hubungan bahasa Hindi dan bahasa Inggris. Teksnya berupa:
Vinod : mai to kuhungaa ki yah one of the
(saya akan mengatakan bahwa ini adalah salah)
Best novels of the year is
(Satu novel terbaik tahun ini)
Mira :
That’s right. It is decidedly one of
(benar.
Diputuskan novel itu memang
The
best novel of the year
(Novel terbaik tahun ini
Perkataan Vinod terdiri
dari dua buah klausa. Yang satu berarti saya akan mengatakan dan yang
kedua berarti “ini adalah salah satu
novel terbaik tahun ini. Meskipun kata-kata dalam klausa hamper semuanya bahasa
Inggris, tetapi gramatikal klausa itu adalah klausa bahasa Hindi, sebab klausa tersebut yang
dimulai dengan pronominanya dan memiliki kata mai dalam posisi akhir klausa.
Alih kode terjadi pada ucapan Mira. Ucapan Vinod dan Mira tersebut terjadi
campur kode.
Selasa, 18 Juni 2013
Cara Membaca Efektif
MAMPUKAH METODE BELAJAR SURVEY Q3R MENINGKATKAN MINAT BACA PESERTA DIDIK
SEKOLAH DASAR
Oleh: Wahyuningsih Rahayu, S. Pd
Benarkah motivasi peserta didik dalam membaca sekarang ini rendah? Era sekarang ini anak lebih suka melihat televisi dengan acaranya yang senantiasa menarik dari pada membaca. Hal ini menjadi tantangan yang tidak ringan bagi pendidik. Seorang pendidik harus dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan merangsang belajar siswa. Pendidik dan orang tua hendaknya mengkondisikan anak untuk mau membaca baik di sekolah maupun di rumah.
Membaca adalah kunci untuk mendapatkan Ilmu Pengetahuan. Seseorang akan ketinggalan jauh terhadap informasi yang aktual apabila tidak mau membaca. Apalagi siswa, tidak termotivasi membaca maka dia tidak akan dapat belajar dengan baik. The Liang Gie (1998:61) mendefinisikan: “Membaca adalah serangkaian kegiatan pikiran seseorang yang dilakukan secara penuh perhatian untuk memahami makna sesuatu keterangan yang disajikan kepada indera penglihatan dalam bentuk lambang dan huruf”. Membaca merupakan upaya seseorang untuk mempelajari dan memahami terdapat suatu isi buku. Maka dari itu hendaknya siswa sejak Sekolah Dasar dibiasakan untuk dapat melakukan membaca yang efektif dan efisien. Adapun ciri-ciri seseorang yang membaca efisien menurut The Liang Gie (1998: 59) adalah sebagai berikut: (1) memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam membaca, (2) dapat membaca secara cepat, (3) dapat menangkap dan memahami isi bahan bacaannya, dan (4) seusai membaca dapat mengingat butir-butir gagasan utama dari bahan bacaanya.
Kegiatan belajar siswa akan efektif apabila ditunjang dengan media dan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik siswa. Salah satu metode yang dapat digunakan siswa dalam belajar adalah metode membaca dengan Survey Q3R. Metode ini dapat dimanfaatkan siswa untuk membaca buku sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan tinggi. Cara membaca buku dalam kegiatan belajar perlu mendapatkan perhatian, karena hal ini erat kaitannya dengan pemahaman materi buku yang dipelajari siswa. Oleh karenanya seorang guru perlu menanamkan cara membaca buku yang baik dan efisien sehingga siswa dapat menghemat waktu belajarnya. Penananan sikap dan cara amembaca buku yang efektif dapat dilakukan sejak anak duduk di Sekolah Dasar, hal ini karena pengetahuan di Sekolah Dasar merupakan pondasi untuk pendidikan berikutnya.
Metode belajar adalah cara yang digunakan agar dapat belajar dengan baik. Metode belajar Survey Q3R menurut The Liang Gie (1998: 68) adalah metode membaca yang disarankan pertama kali oleh Prof. Francis P. Robinson dari Ohio State University di Amerika Serikat. Metode Survey Q3R mempunyai arti Survey berarti menyelediki, Question mempunyai arti pertanyaan, Read adalah membaca, Recite memiliki arti meringkas dan Review adalah mengulangi. Metode belajar survey Q3R merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan guru atau orang tua siswa untuk dapat meningkatkan minat baca anak terhadap bahan-bahan ajar maupun pengetahuan lainnya.
Dalam belajar yang menggunakan metode ini meliputi lima langkah yang harus ditempuh oleh siswa, yaitu: 1) Langkah pertama metode ini adalah dengan survey atau menyelidiki bab, pembagian paragraf, judul yang tercantum dalam daftar isi, juga judul gambar maupun grafik dan tabel. Pendekatan ini akan membantu siswa menata gagasan-gagasan ketika akan membaca selanjutnya, 2) Langkah kedua kegiatan ini adalah Question, yang berarti menanyakan. Dalam hal ini siswa hendaknya mengubah judul yang pertama itu menjadi pertanyaan yang akan mengundang rasa ingin tahu dan dapat meningkatkan pemahaman. Dari pertanyaan yang telah disusun siswa mencari jawabannya dalam bacaan, 3) Langkah ketiga adalah Read yang mengandung arti membaca. Dalam membaca ini bertujuan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang telah disusun, sehingga siswa tidak pasif tetapi aktif untuk memahami isi bacaan. Dalam membaca buku ini kegiatan siswa benar-benar untuk mendapatkan pengetahuan yang belum diketahuinya, sehingga berbagai pertanyaan yang timbul sebelumnya dapat terjawab, 4) Langkah keempat adalah Recite yang berarti mendaras. Kegiatan dalam tahap ini adalah membuat ringkasan yang merupakan inti dari bacaan. Pada waktu mendaras ini dapat diulangi beberapa kali sampai dapat memahami betul isi bacaan hingga dapat menemukan jawaban terhadap pertanyaan dari ringkasan yang telah disusun, dan 5) Langkah kelima adalah tahap Review yang berarti mengulangi. Bila pelajaran telah selesai dibaca maka catatan-catatan kecil atau ringkasan dapat dilihat kembali untuk memperoleh pandangan yang menyeluruh terhadap butir-butir dan hubungannya. Selain itu pengujian ingatan kita dari bacaan dapat dilakukan dengan menutupi catatan dan mengingat kembali butir-butir utama itu. Dari butir utama itu dapat untuk mengingat isi dari beberapa sub butir yang berkaitan.
Metode Survey Q3R di atas dapat dimanfaatkan oleh guru Sekolah dalam memberikan pelajaran membaca bagi anak (untuk siswa yang telah dapat membaca dengan lancar). Sebab dalam pelajaran dengan menggunakan metode membaca Survey Q3R siswa harus dapat melakukan membaca dalam hati, memahami isi bacaan dan mampu menguasahi isi bacaan. Penanaman cara membaca buku ini dapat dilakukan guru dengan cara membiasakan anak didik membaca di perpustakaan atau membaca buku apa saja yang anak kehendaki anak, dengan tujuan agar anak termotivasi membaca. Selain itu guru juga dapat menerapkan metode membaca ini dalam kegiatan pembelajaran, terutama yang berkaitan dengan pembelajaran bahannya berupa bacaan seperti pelajaran IPS, PKn, atau mata pelajaran lainnya.
Metode belajar ini dapat dimanfaatkan siswa untuk belajar di rumah. Sebab metode belajar ini apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh siswa, ilmu pengetahuan yang didapat akan tahan lama dan tidak hanya sekedar membaca dan tentu minat baca anak terhadap buku dapat meningkat. Selamat mencoba, semoga sukses menyertai kalian!!!
PENULIS:
Nama : Wahyuningsih Rahayu, S. Pd
Tempat/ Tgl lahir : Boyolali, 7 Februari 1971
Pekerjaan : Guru Sekolah Dasar Negeri Batursari 5 Kecamatan Mranggen- Demak.
Telepon : 024 6710461 / 081325442803
Alamat : Jl. Pucang Asri II/12 Pucangngading 59567
SERTIFIKASI MEMBUAT GURU MAKIN MAJU ATAU BEKU
Benarkah program sertifikasi mampu membuat guru semakin maju? Undang-undang guru dan dosen telah disahkan sejak tahun 2004, namun baru tahun 2006 mulai ada realiasi, yakni adanya program sertifikasi guru. Dengan adanya program ini disambut oleh kalangan guru dengan suka ria, luka, serta biasa-biasa saja.
Kalangan guru yang menyambutnya dengan suka ria adalah mereka yang telah berpendidikan S1 atau D4 seperti yang disyaratkan sertifikasi, masa kerja memenuhi syarat baik PNS maupun swasta. Mereka yang menyambutkan dengan luka adalah guru yang masa kerjanya sudah cukup lama, hampir memasuki usia pensiun dan belum berijazah S1. Sedangkan guru yang menanggapinya dengan biasa saja adalah mereka yang belum memenuhi syarat sertifikasi baik ijazah, usia, maupun masa kerja.
Portiofolio merupakan salah satu jalur yang digunakan untuk ukuran sertifikasi sekarang ini. Program ini menghitung jumlah point guru yang dikumpulkan sejak ia menjadi guru hingga sekarang ini. Dalam penyusunan portofolio meliputi kualifikasi akademik, pengembangan profesi, pengalaman mengajar, penilaian atasan, keikutsertaan guru dalam organisasi, peran guru dalam kegiatan ilmiah dan lain-lainnya.
Guru yang aktif akan dengan mudah menyusun portofolio dengan nilai estándar yang ditentukan, yakni minimal 850 point. Namun bagaimana dengnan guru yang pasif? Binguuung bukan kepalang, kan ?
Terbayang dalam benaknya tunjangan 1 kali gaji bakal terhambat, nih….! Mereka berpikir bagaimana caranya mengumpulkan point-poin itu? Lantas mereka berlomba-lomba mengikuti seminar. Setiap ada seminar diburunya, kadang-kadang sampai meninggalkan anak didiknya. Benarkah cara ini yang dikehendaki?
Tentu bukan, bila yang diharapkan adalah sekedar pengumpulan poin portofolio, maka kinerja guru akan semakin beku. Tapi bila ingin maju, maka guru yang telah tersertifikasi harus dievaluasi kinerjanya setiap saat, bukan hanya jumlah nilai yang mereka kumpulkan yang dinilai.
Bila ada tindak lanjut yang efektif, maka sertifikasi yang diprogramkan pemerintah juga akan meningkatkan mutu pendidikan yang diharapkan, namun jika hanya sekedar untuk pengumpulan nilai maka porgram pemerintah yang menelan berjuta-juta rupiah akan sia-sia saja.
Tentu saja, semua itu tergantung pada hati nurani semua pendidik kita, dengan sertifikasi akan semakin maju atau semakin beku, sehingga senang mendapatkan tunjangan tapi kinerja malah semakin amburadul. Tetapi nurani seorang guru tentu akan selalu menjadikan yang terbaik untuk anak didik maupun kemajuan bangsa ini. Siapa lagi yang mau peduli jika pendidik saja tidak peduli?
Penulis: Sri Hidayah, S. Pd
SD Negeri Batursari 7
SALAH SIAPA PELAJARAN IPS DIANAK TIRIKAN?
Mengnapa anak sekarang ini cenderung memandang sebelah mata pelajaran IPS? Padahal pembelajaran yang efektif dapat memanfaatkan berbagai media dan metode secara bervariasi agar menimbulkan minat dan motivasi belajar peserta didik terhadap semua mata pelajaran di sekolah. Namun demikian akhir-akhir ini mata pelajaran Pengetahuan Sosial (IPS) sering hanya dilirik dengan mata sebelah oleh peserta didik. Hal ini karena mata pelajaran ini cakupan materinya terlalu luas, dan tidak termasuk dalam UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional). Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 39 Tahun 2007 tentang Ujian Akhir Berstandar Nasional, pada pasal 6 yang menyatakan bahwa Mata Pelajaran yang diujikan pada UASBN Tahun Pelajaran 2007/2008 meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dengan kondisi ini, anak cenderung malas dan enggan memperhatikan pelajaran IPS, apalagi apabila cara penyampaian guru cenderung monoton dan konvensional.
Hasil belajar peserta didik menunjukkan bahwa nilai mata pelajaran IPS masih terendah bila dibandingkan dengan nilai ulangan harian mata pelajaran lainnya. Masih banyak peserta didik yang mendapatkan nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditentukan Sekolah. Penyebab lain rendahnya nilai mata pelajaran IPS berdasarkan pengamatan lapangan dan informasi dari beberapa peserta didik, ternyata karena pada dasarnya anak malas membaca buku pelajaran IPS. Padahal materi yang cukup luas dalam buku tidak mungkin dimengerti anak apabila anak tidak tertarik untuk membaca.
Melihat fenomena itu, seorang pendidik hendaknya menciptakan kegiatan pembelajaran yang dapat menarik minat dan motivasi peserta didik dalam belajar IPS. Untuk meningkatkan motivasi, perlu upaya guru menciptakan pembelajaran yang aktif, efektif, dan menyenangkan bagi peserta didik. Oleh karena itu pemilihan media yang relevan akan membantu keberhasilan usaha guru. Media yang digunakan dapat mulai dari media yang sederhana hingga media yang canggih dan modern, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik serta materi yang akan diajarkan. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah media komputer.
Dengan memanfaatkan media komputer, diperlukan pula strategi yang efektif. Maka pemilihan metode yang menyenangkan bagi peserta didik merupakan solusi yang dapat diusahakan guru. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar di antaranya adalah metode kuis, yakni metode yang digunakan guru dengan memberikan pertanyaan kepada siswa tentang materi pelajaran IPS, dan apabila anak menjawab salah maka ia mendapatkan sanksi.
Progarm yang dipilih dalam mendesain materi adalah MS Power Point. Materi yang akan diajarkan dikemas dalam bentuk pertanyaan, disediakan alternatif jawabannya, saksi bila anak menjawab salah serta tugas anak apabila mereka dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar.
Pembelajaran dilakukan di kelas dengan satu komputer ataupun di laboratorium komputer. Setelah anak mendapatkan penjelasan guru, maka anak dapat melakukan membaca di kelas maupun di luar kelas dengan kelompoknya. Materi yang dibaca dapat mengambil dari sembarang buku yang penting sesuai dengan bahasan pada waktu itu. Setelah mereka siap maka mereka mempraktikkan kegiatan kuis dengan bantuan media komputer. Kegiatan dilakukan secara kelompok. Kegiatan ini diakhiri dengan tanya jawab materi yang dikerjakan di dalam kuis.
Alternatif ini merupakan salah satu untuk membangkitkan motivasi belajar anak terhadap pelajaran IPS. Dengan strategi pembelajaran guru yang bervariasi, maka mata pelajaran IPS yang cukup dianaktirikan oleh siswa dapat kembali diminati untuk dipahami dan dimengerti siswa. Meraih hasil belajar IPS yang lebih optimal tak perlu mencari siapa yang salah, tetapi mencari bagaimana agar anak termotivasi untuk mau belajar lagi.
Penulils: Sulastri, S. Pd
Langganan:
Postingan (Atom)

