Selasa, 18 Juni 2013

LANDASAN HISTORIS

-->
LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN
Wahyuningsih Rahayu, S. Pd.
I. PENDAHULUAN
Sejarah merupakan rentetan kejadian masa lalu yang didasari atas konsep-kosep tertentu. Orang bijak selalu mengatakan kita harus senantiasa mengingat sejarah agar menjadi maju. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Bung Karno masa ketika itu pernah mengucapkan “JASMERAH” yakni jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Karena sejarah merupakan informasi yang bermakna bagi generasi muda.
Sejarah dalam dunia pendidikan akan sangat bermakna bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu salah satu landasan pendidika di Negara kita adalah landasan sejarah atau landasan historis. Landasan historis pendidikan merupakan rentetan kejadian yang menjadi dasar pelaksanaan pendidikan. Landasan histori pendidikan merupakan cita-cita dan prakrek-praktek pendidikan masa lampau yang tersurat atau tersirat masih menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Sejarah dalam pendidikan juga merupakan bahan pembanding untuk memajukan pendidikan suatu bangsa. Oleh karena itu permasalahan yang akan dibahas dalam hal ini adalah,” Bagaimanakah landasan historis pendidikan di Indonesia?
II. PEMBAHASAN MASALAH
Landasan sejarah dalam pendidikan di Indonesia akan dilihat dari sudut pandang landasan sejarah pendidikan dunia dan landasan sejarah perkembangan pendidkan di Indonesia. Sejarah pendidikan dunia dimulai sejak zaman Hellenisme tahun 150 sM. Pendidikan zaman itu belum begitu banyak memberikan kontribusinya dalam pendidikan seperti sekairang ini. Pada paparan ini akan dideskripsikan mengenai landasan sejarah dunia dan landasan sejarah pendidikan di Indonesia.
A. Landasan Sejarah Dunia
Landasan historis pendidikan dunia secara bertahap mulai dari jaman realisme yang menghendaki bahwa menghendaki pikiran yang praktis. Gerakan ini mendorong berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan alam. Salah satu tokohnya adalah Francis Bacon (abad 17) yang menemukan metode induktif. Pendapat dari Bacon ini antara lain: 1) menemukan dan mengembangkan pengetahuan, pandangan harus diarahkan kepada realita ala mini serta hal-hal yang praktis, 2) alam lingkungan adalah sumber pengetahuan yang bisa didapat melalui alat-alat indera, 3) menggunakan metode berpikir induktif, 4) mengembangkan pengetahuan dengan eksperimen, dan penggunaan bahasa daerah lebih diutamakan. Tokoh lainnya adalah Johann Amos Comenius.
Setelah jaman realism berkembanglah paham rasionalisme dengan tokohnya John Locke pada abad 18. Teorinya terkenal dengan teori tabularasa atau a blank sheet of paper. Selanjutnay abad ke-18 muncul aliran baru yaitu naturalis sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme. Tokohnya adalah JJ Roesseau yang menentang kehidupan yang tidak wajar sebagai akibat dari rasionalisme. Ia menginginkan keseimbangan antara kekuatan rasio dengan hati.
Pada abad19 muncul penganut aliran development yang memandang proses pendidikan sebagai suatu proses perkembangan jiwa. Tokohnya adalah Pestalozzi, johan Fredich herbart, Freidch Wilhelm Frobel di Jerman, dan Stanley Hall di Amerika Serikat. Jaman development ini kemudian diikuti oleh zaman nasionalisme, yaitu paham yang muncul sebagai upaya upaya membentuk patriot-patriot bangsa, mempertahankan bangsa dari imperialis. Tokoh aliran nasionalisme ini antara lain: :La Chalotais di Perancis, Ficchte di jerman, dan Jefferson di Amerika Serikat. Tujuan pendidikan mereka adalah menjaga, memperkuat , dan mempertinggi kedudukan Negara. Abad ke 19 ini juga ditandai dengan liberalism dan positivism, dengan bukti adanya sekolah-sekolah dipakai sebagai alat untuk memperkuat kedudukan penguasa/pemerintahan. Kemudian pada abad ke 20 munculah aliran social dalam pendidikan. Tokohnya adalah Paul Natorp dan George Kerchensteiner di Jerman serta John Dewey di Amerika Serikat. Para tokoh ini memiliki pendapat bahwa masyarakat mempunyai arti yang lebih esensial dari pada individu. Beberapa ahli pendidik yang terkenal di abad 20 ini adalah Maria Montessori, Ovide Decroly, dan Hellen Parkhurst.
B. LANDASAN SEJARAH PENDIDIKAN DI INDONESIA
Secara historis landasan pendidikan di Indonesia menurut Mudyahardjo, (1998: 128) dibedakan dalam tiga tonggak yaitu : pendidikan tradisional, pendidikan kolonial barat, dan pendidikan kolonial Jepang.
a. Pendidikan tradisional yaitu penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang dipengaruhi oleh agama-agama besar di dunai, yaitu Hindu, Budha, Islam, dan Nasrani (Katholik dan Protestan).
b. Pendidikan Kolonial barat yaitu penyelenggaraan pendidikan colonial kan di Indonesia oleh pemerintah colonial Barat terutama Belanda.
c. Pendidikan kolonial Jepang yaitu pendidikan di Indonesia yang diselengngarakan oleh pemerintah Jepang. Adapaun penjabaran masing-masing tonggak itu sebagai berikut:
Adapun penjelasan dari masing-masing masa tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Penddikan Tradisional
a. Pendidikan Hindu Budha
Agama Hindu dan Budha mulai datang ke Indonesia sekitar abad ke 5, tumbuh dan berkembang secara harmonis. Ajaran agama Hindu membagi keseluruhan hidup manusia dalam empat masa yang disebut catur asrama (Asrama berasal dari bahasa Sansekerta Srana yang berarti usaha seseorang). Ajaran Catur Asrama terdiri atas: Brahmacharya asmara (tibngkat hidup berguru), Gristhasrama (tingkat hidup berumah tangga), vanaprasha asrama ( tingkat hidup mengasingkan diri) dan Samnyasa asrama (tingkat hidup berkelana). Tujuan pendidikan agama hindu adalah sama dengan tujuan yang diajarkan oleh agamanya. Ajaran agama hindu menyangkut 3 aspek yaitu Tatwa (filsafat), susila (etika), dan upacara yaitu pelaksanaan yang banyak berkaitan dengan adat istiadat. Dalam filsafat agama Hindu berdasarkan kita Weda Sang Yang Widhi menytakan dirinya sesuai dengan fungsinya dlama bentuk Tri Murti atau Tri Sakti, yaitu: Barhma dalam fungsinya sebagai pencipta, Wisnu dalam fungsinya sebagai pelindng dan pemelihara, siswa dalam fungsinya sebagai praline atau pelebur dunia serta isinya dan mengembalikannya melalui peredaran ke asalnya.
Pendidikan pada masa ini dikenal dengan perguruan. Macam-macam perguruan ketika itu adalah peguron kraton dan peguron biasa. Peguron Kraton yaitu karton atau puri dijadikan tempat berlangsungnya pendidikan. Pendidikan dilakukan oleh Bapak terhadap abaknya atau seorang Raja menunjuk pendeta yang dianggap mempunyai keahlian dalam bidang sastra yang meliputi segala aspek pengnetahuan yang berkaitan dengan agama, etika, filsafat, pemerintahan, hokum, dan dia diangkat menjadi pendeta istana dengan nama Bhagawanta. Contoh: Pemerintaha Waturenggong di gelgel Bali, pendeta yang diangkat yaitu: Pedneta Dang Hyang Dwijendra dan seorang pendeta budha Dang Hyang Astapaka. Sedangkan peguron biasa didirikan diluar istana yang dipimpin oleh seorang yang berilmu. Para murid disebut sisya atau cantrik, sedangkan tinggalnya di pondok ( asrama) yang disediakan oleh peguron. Peguron ini terutama mengajarkan tentang ilmu-ilmu agama.
b. Pendidikan Islam Tradisional.
Perkembangan Islam di Indnesia membawa kebudayaan ke Indonesia pula. Abat ke 13 pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia. Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Samudera Passai di Aceh, kemudian menyebar ke daerah lain hingga sampai pada kerajaan Demak di Jawa. Penyelenggaraan pendidikan pada masa ini adalah pendidikan yang berkaitan dengan agama Islam. Tujuan pendidikannya sama dengan tujuan hidup agama Islam yaitu mengabdi sepenuhnya kepada Allah dengan ajaran yang disampaikan nabi Muhammad dalam bentuk Al Quran. Penyelenggaraan pendidikan Islam tradisional dilaksanakan terpusat tetapi banyak dilakukan secara perorangan, biasanya para ulama Islam dalam rangka penyebaran agama Islam.
Pembinaan dan penyebaran terkoordinasi dan dilaksanakan oleh para Wali di Jawa terutama Wali Sanga. Perkembangan Pendidikan Islam Tradisional sampai pada pertengahan abad 19 mendapat tantangan dengan masuknya pemerintah kolonial Belanda memlalui program politik Etisnya.
c. Pendidikan Katolik dan Protestan
Pendidikan katolik di Indonesia diawali dengan kedatangan bangsa Potugis. Apalagi Portugis bercita-cita membangun negeri jajahan. Bangsa Potugis mulai datang ke Indonesia sekitar abad 16. Dengan kedatangan bangsa asing, mereka mendirikan sekolah Misionaris yang bertujuan untuk menyebarkan agama Katolik. Sekolah Misionaris itu antara lain: 1) Fanciscus Xaverius, Orde Jesuit, dan Pendirian sekolah Katolik. Orang Portugis selaian ingin mencari kekuasaan, emas, juga ingin menyebarkan agamanya termasuk ke Indonesia. Dalam kegiatan perdagangan, meraka sambil menugasi paderi-paderi untuk menyebarkan agama katolik hinga dapat berkembang sampai Ternate, tidore, dan Ambon. Bahkan sampai padsa Nusa tenggara dan Sulawesi.
Kemudian kedatangan orang Belanda membawa pendidikan Protestan ke Indonesia. Dengan adanya kongsi dagang belanda (VOC) maka Portugis semakin terdesak, dan Belanda semakin menguasai Indonesia. Oleh karena itu pengaruh Protestan semakain berkembang di Indonesia. Sikap VOC terhadap pendidikan adalah: membiarkan terselenggaranya pendidikan Islma tradisional di Nusantara, mendukung diselenggarakannya sekolah yang bertujuan menyebarkan agama Kristen. Sekolah sekolah yang didirikan VOC antara lain (Sekolah Zending ): Sekolah Pertma di Ambin dengan tujuan mendidika anak-anak anak Ambon melalui Bahasa Belanda dan melayu menjadi penganut agama Kristen Protestan., Sekolah pertama dibuka di Kepulauan Banda, pula dengan asrama tahun 1622, dll. Sekolah zending ini berkembang hingga di seluruh Nusantara, terakhir di banten tahun 1779.
2. Pendidikan Masa Kolonial Barat
Pendidikan kolonial Belanda mulai abad 19 dan 20. Pemerintahan Belanda dalam penyelenggaraan pendidikan untuk Bumiputera didasarkan pada kecenderungan aliran Liberalisme yang berkembang di Belanda, sehingga pendidikan agama tidak diberikan di sekolah, politik diskriminasi antara pribumi dengan orang Eropa yang ditegaskan dalam Algemene Bepalingen Van Wetgeving (1848) yang kemudian ditetapkan tiga golongan rakyat Indonesia yaitu: Orang Eropa, Bumiputera, dan Orang Timur Asing. Kharakteristik system penyelenggaraan pendidikan Belanda : 1) Dualistik Diskrimiatif yaitu membedakan pendidikan untuk orabg Eropa, bumiputera. Sekolah Eropa berbahasa pengantar Belanda, sekolah bumi putera berbahasa pengantar Melayu atau bahasa daerah, 2) sentralistik yaitu pemerintah kolonial Belanda mempunyai wewenang mengatur penyelenggaraan pendidikan baik pendidikan untuk orang Eropa maupun bumiputera. 3) tujuan pendidikan bumi putera menghasilkan tamatan yang menjadi warganegara Belanda kelas II yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pegawai negeri atau perusahaan swasta Belanda dan tingkat ,menengah dan rendah. Ada 3 macam tingkatan pendidikan jaman ini yaitu: sekolah dasar dan lanjutan untuk golongan Eropa, Sekolah Dasar Negeri dan Sekolah Raja untuk golongan penduduk Pribumi, dan sekolaha kejuruan untuk dapat diikuti oleh golongan eropa dan primbumi.
Pada jaman kolonial Belanda ini beberapa tokoh di Indonnesia berusaha untuk mencerdaskan bangsanya dengan mendirikan lembaga pendidikan untuk mengembalikan harag diri dan martabatnya yang hilang karena dijajah Belanda. Tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia pada masa itu antara lain: Mohammad Syafei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Mumahamad Syafei mendirikan INS atau Indonesisch Nederlandse School di Sumatera Barat pada tahun 1926. Sekolah ini lebih terkenal dengan sebutan sekolah Kayutanam . Tujuan pendidikannya adalah mendidik anak-anak kearah hidup yang merdeka, melalui pendidikan hidup mandiri.
Tokoh pendidikan lainnya pada masa itu adalah Ki hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta, serta Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi agama Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta juga, pendidikannya terkenal dengan pendidikan Muhammadiyah.
3. Pendidikan Masa Kolonial Jepang
Pendidikan jaman Jepang dilaksanakan atas dasar landasan Idiil Hakko-Ichi-U yang berarti bahwa pendidikan adalah alat untuk mencapai lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya yang dalam arti dekat membantu memenangkan perang Asia Timur. Bahasa pengantarnya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Belanda dilarang sama sekali, dan Bahasa Jepang menjadi bahasa ke dua setelah diajarkan Bahasa Indonesia. Dualirtis dan diskriminatif dihapus dalam sistem pendidikan sehingga terjadi pengintegrasian terhadap macam-macam sekolah sejenis. Jenis sekolahan jaman Jepang : Sekolah Rendah (large Oriderwijs diganti Sekolah rakyat (Kokumin Gakho, yang terbuka bagi semua golongan penduduk dengan lama pendidikan 6 tahun.
Sekolah Menengah pertama (Shoto Chu Gakho) Sekolah Menengah Tinggi (koto Chu Gakho) sekolah pertukangan (Kogyo Gakho, Sekolah Teknik menengah (kogya Semmon Gakho,s ekolah hukun dan Mosvia dilhilangkabn, sekolah menajdi 3 yaitu: Sekolah Guru Dua tahun (syoto Sikan Gakho) sekolah Guru 4 tahun (koto Sihan Gakho) dans ekolah guru enam tahun ( kkoto sihan Gakho). Serta sekolah eprtanian (nogya Gakho) di tasikmalaya dan Malang dengan lama pendidikan 3 tahun.
Perguruan tinggai zaman Jepang hampir semuanya ditutup., yang masih ada sekolah tinggi kedokteran (ika Dai Gakho) di Jakarta dan Sekolah Teknik Tinggi (agyo Dai Gakho) di Bandung. Jepang membuka sekolah tinggi pamong praja (kenkoku Cakuin) di Jakarta dan sekolah tinggi kedorkteran hewan di Bogor.
Landasan hidtoris pendidikan di Indonesia menurut Pidarta (2007: 137) juga dilengkapi dengan masa pembangunan dan masa reformasi. Pendidikan pada masa pembangunan dilaksanakan setelah Indonesia merdeka dengan tujuan seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Pendidikan masa pembangunan ini dikembangkan dengan kebijakan link and macth. Inovasi pendidikan juga sudah dilaksanakan untuk mencapai sasaran pendidikan yang diinginkan.
Pada masa reformasi diawali dengan runtuhnya orde baru sekitar tahun 1998, jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah diubah menjadi jalur pendidikan formal, informal, dan nonformal. Penyelenggaraan pendidikan mulai desentralisasi. Instrumen-instrumen untuk mewujudkan desentralisasi pendidikan sudah diusahakan misalnya melalui MBS, life skill, CTL, dan lain-lain.
III. KESIMPULAN
Berdasarkan deskripsi dari landasan histori pendidikan di dunia maupun di Indonesia tersebut, ilmplikasi konsep pendidikan di Indonesia sekarang ini adalah mewujudkan pendidikan yang dapat mencapai tujuan yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 di era globalisasi ini dan senantiasa menciptakan pendidikan yang berwawasan luas dan bermartabat untuk kepentingan bangsa dan Negara Indonesia.
Buku Sumber:
Nana Syaodih Sukmadinata. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya
Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rieneka Cipta.
Redja Mudyahardjo, 1998, Pengantar Pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada.


LANDASAN HISTORIS KEPENDIDIKAN
Tugas Kelompok II
Mata Kuliah : Landasan Kependidikan
Dosen : Dr. Titi Prihatin, M.Pd.

Oleh
WAHYUNINGSIH RAHAYU NIM. 0103510016
KUSMINAH NIM. 0103510018
PRODI PENDIDIKAN DASAR
KONSENTRASI BAHASA INDONESIA
PPS UNNES
2010

MODEL PEMBELAJARAN INDUKTIF

MODEL PEMBELAJARAN INDUKTIF
OLEH: WAHYUNINGSIH RAHAYU
Model pembelajaran induktif merupakan model pembelajaran yang melatih siswa belajar bagaimana berpikir secara induktif, yaitu membantu siswa untuk berkonsentrasi pada suatu ranah yang dapat mereka kuasai, tanpa menciutkan hati mereka yang menghasilkan gagasan, membantu siswa mengembangkan pemahaman konseptual tentang ranah tertentu, mengkonversi pemahaman konseptual menjadi keterampilan.
Model berpikir induktif meyakini bahwa siswa sebagai peserta didik merupakan konseptor ilmiah. Setiap saat seseorang selalu berusaha untuk melakukan suatu konseptualisasi dalam hal apapun, proses berpikir induktif diperlukan Model berpikir induktif mempunyai beberapa karakteristik utama antara lain; Fokus membantu peserta didik untuk berkonsentrasi pada satu ranah/kemampuan berpikir (bidang penelitian) yang dapat mereka kuasai, tanpa mengecilkan keinginan dalam hati mereka yang jelas membuatnya tidak bisa menggunakan seluruh kemampuan untuk menghasilkan suatu gagasan yang luar biasa. Hal utama yang perlu dilakukan adalah menyajikan seperangkat data yang menyediakan informasi terhadap suatu cakupan mata pelajaran tertentu dengan meminta peserta didik mempelajari sifat-sifat objek dalam perangkat yang disajikan tersebut.
Dengan fokus terhadap suatu kajian tertentu yang familiar di telinga dan mata peserta didik hal ini diharapkan dapat mendukung dan mencapai proses pembelajaran yang optimal sebagaimana tujuan yang akan dicapai pada standar isi (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar).
Pengawasan/kontrol konseptual, ini membantu siswa mengembangkan kemampuan konseptual terhadap satu ranah/bidang kajian tertentu.

Dalam hal proses membangun pemahaman secara konseptual pada proses klasifikasi secara abstrak, peserta didik tanpa disadari tentunya akan melakukan suatu aktifitas yang melibatkan unsur motorik dan tentunya kognitif mereka. Melalui proses kategorisasi dan pengelompokan ini, peserta didik akan menggunakan tangannya untuk menulis dan memikirkan jenis pengelompokan yang digunakan untuk membedakan mana yang termasuk kegiatan produksi, kegiatan distribusi, dan mana yang termasuk kegiatan konsumsi. Model berpikir induktif dapat membantu peserta didik untuk mengumpulkan informasi dan mengujinya secara ilmiah (dengan tahap perkembangan usia dan berpikir peserta didik) dengan teliti, mengolah informasi ke dalam konsep-konsep, dan belajar memanipulasi konsep-konsep tersebut.
Misalnya dalam pembelajaran Bahasa Indontesia kelas VI semester 2,
Standar Kompetensi: Menulis (Mengungkapkan pikiran dan informasi secara tertulis dalam bentuk teks fungsional dialog pendek sangat sederhana)
Kompetensi Dasar : Menyusun teks fungsional (dialog, kalimat langsung, kalimat tak langsung) dengan bahasa yang baik dan benar, serta memperhatikan penggunaan ejaan dan tanda baca.

I. SKENARIO
Seorang guru akan mengajarkan materi tentang “kalimat langsung” dan “kalimat tak langsung” di kelas enam. Materi ini termasuk dalam aspek menulis kalimat teks fungsional pendek sangat sederhana. Sebelum kegiatan pembelajaran, guru menyiapkan bahan bacaan yang memuat contoh-contoh kalimat langsung dan kalimat tak langsung.
Guru di dalam kelas membagikan bahan bacaan yang telah disiapkannya kepada siswa-siswa. Kemudian guru menjelaskan kegiatan akan dilakukan siswa. Siswa membaca materi secara individual. Setelah siswa membaca, maka guru meminta siswa untuk mengelompokkan yang termasuk kalimat langsung dan kalimat tak langsung. Siswa satu persatu menuliskan di papan tulis yang termasuk kalimat langsung dari bahan bacaan yang dibacanya. Kegiatan dilanjutkan dengan mengelompokkan kalimat langsung yang benar, dan kalimat langsung yang salah yang terlah ditulis siswa di papan tulis.
Setelah itu, kalimat-kalimat yang salah dihapus. Di papan tulis tinggal beberapa kalimat yang merupakan kalimat langsung yang benar. Kalimat-kalimat yang salah, dimasukkan dalam kolom yang lain. Siswa diminta untuk mengamati contoh-contoh kalimat yang tertulis di papan tulis. Siswa diminta mengamati kalimat-kalimat yang ada di papan tulis yang benar yang termasuk katagori kalimat langsung. Siswa membuat contoh-contoh kalimat langsung lain yang belum ditulis di papan tulis. Siswa membuat contoh kalimat langsung dengan kata-katanya sendiri.
Contoh kalimat yang disusun siswa dianalisis bersama antara guru dan murid. Siswa dan guru bertanya jawab, cirri-ciri kalimat langsung dan kalimat tak langsung berdasarkan contoh-contoh yang ada di papan tulis. Siswa menyebutkan tanda baca yang perlu di tulis dalam kalimat langsung. Menyebutkan cara menuliskan huruf capital dalam kalimat langsung. Setelah itu siswa dan guru menyimpulkan cirri-ciri yang termasuk katagori kalimat langsung dan kalimat tak langsung. Siswa menulis kesimpulan pengertian kalimat langsung dan tak langsung. Kemudian siswa mengerjakan tugas membuat contoh-contoh kalimat langsung dan tak langsung di buku tugas masing-masing secara individu.

II. URAIAN KOMPONEN
A. SINTAKS
Tahap-tahap model induktif meliputi:
1. Mengidentifikasi dan menghitung data yang relevan dengan topik atau masalah.
Langkah ini dapat dilakukan dengan cara menyajikan topik dalam pembelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak diajarkan. Misalnya: bacaan tentang masalah tentang kalimat langsung dan kalimat tak langsung.
2. Mengelompokkan objek-objek ini menjadi kategori-kategori yang anggotanya memiliki sifat umum.
Kegiatan ini mengelompokkan materi sesuai dengan masalah yang dibahas. Kegiatan mengelompokkan materi dalam bacaan yang termasuk kalimat langsung dan kalimat tak langsung. Kegiatan ini mendorong siswa untuk memahami klasifikasi yang termasuk kalimat langsung maupun kalimat tak langsung.
3. Menafsirkan data dan mengembangkan label untuk kategori-kategori tadi sehingga data tersebut bisa dimanipulasi secara simbolis.
Materi-materi yang telah diklasifikasikan sesuai dengan cirri-cirinya tersebut, kemudian dipahami secara teoritis tentang kategori-kategori dari materi tersebut. Misalnya kategori kalimat langsung memiliki cirri-ciri baik dari segi penulisan, tanda baca, maupun ejaan yang tidak sama dengan cara penulisan kalimat tak langsung.
4. Mengubah kategori-katagori menjadi keterampilan atau hipotesis-hipotesis.
Berdasarkan kategori materi yang telah di dapat dari beberapa contoh yang umum sampai yang spesifik tersebut, siswa dapat menentukan ikhwal materi menjadi suatu keterampilan atau konsep siswa tentang kalimat langsung dan kalimat tak langsung. Siswa dapat menentukan sendiri kalimat-kalimat langsung maupun tidak langsung sesuai dengan klasifikasi materi-materi terebut. Termasuk pula siswa dapat mengubah dari kalimat lanngsung menjadi kalimat tak langsung.
Tip-tip mengajar induktif menurut Bruce Joyce (2011: 112) antara lain:
1. Praktik, praktik, dan praktik.
2. Amati dan kaji bagaimana siswa berpikir.
3. Cobalah untuk terus membantu siswa belajar bagaimana cara belajar.
4. Proses induktif membawa anak-anak untuk mengksplorasi suatu bidang materi sebagai suatu komunitas pembelajar yang berlatih untuk menguasahi bidang tersebut.
5. Kecuali berkonsentrasi pada elemen-elemen fonetik dan kosa kata yang baru dipelajari, kata-kata seharusnya disajikan dalam kalimat-kalimat yang menyediakan isyarat konteks dan jenis aktivitas dekat yang dibawa untuk diyakinkan bahwa ada makna / arti yang dibangun.
6. Gunakan model ini dalam bidang-bidang kurikulum.
7. Pastikan seperangkat data memiliki sajian ciri atau sifat, baik untuk pembentukan konsep maupun pencapaian konsep.
8. Berhati-hatilah anda saat mengajarkan kalimat lengkap atau tak lengkap. Ajaril;ah subjek dan predikat terlebih dahulu.
9. Membedakan antarafakta dan pendapat mungkin cocok untuk eksplorasi singkat.
10. Dalam ilmu sains, cobalah fokus pada benda-benda di mana siswa dapat mengumpulkan data mentah.
11. Siswa dapat membuat atau mendapat katagori-katagori yang berciri ganda
12. Dalam mengajarkan konsep-konsep seperti adverb, adjektif, frasa, klausa, harus diingat bahwa di setiap konsep itu terdapat banyak sub katagori.
13. Berilah penekanan ulasan untuk serangkaian data yang tergolong rumit.
14. Mempelajari ciri-ciri sesuatu, seperti karakter dalam cerita, dapat menjadi inisiatif masalah yang menarik.
15. Kembali pada karakteristik-karakteristik
16. Pertimbangkanlah jika ingin menyajikan objek dengan tatanan yang cukup rumit pada awal pengajaran.


B. SISTEM SOSIAL
Atmosfir kelas bersifat kooperative. Saat guru dianggap sebagai inisiator tahap-tahap pengajaran dan penentu rangkaian aktivitas pembelajaran maka dia harus bertanggung jawab melakukan control pada siswa dengan cara kooperative. Pembelajaran dilakukan secara kelompok, sehingga pemahaman siswa dapat diperoleh dengan saling membantu antara anak yang satu dengan lainnya. Siswa dapat melakukan kerja sama dalam menyusun kategori materi sesuai dengan ciri-ciri umum sehingga diperoleh cirri yang khsusus untuk dikembangkan menjadi l;ebih luas dalam pengalaman siswa sampai siswa dapat menguasahi konsep baru suatu materi.

C. PERAN GURU
Guru berperan sebagai fasilitator, motivator, pembimbing, moderator, serta sebagai organisator terhadap kegiatan siswa untuk belajar secara induktif sampai konsep benar-benar dikuasai siswa.
Hilda Taba memberikan pedoman pada guru dalam memberikan tanggapan dan respon di setiap tahap pengajaran, antara lain:
1. Guru harus yakin bahwa tugas-tugas kognitif tersebut muncul dengan instruksi yang optimal dan juga pada saat yang tepat.
2. Guru harus mengkaji seperangkat data secara utuh sebelum melakukan katagorisasi, lalu dilanjutkan dengan mencari hubungan-hubungan.
3. Tugas mental guru adalah memonitor bagaimana siswa memproses informasi dan kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan .
4. Tugas penting guru adalah merasakan kesiapan siswa untuk menjalani pennglaman-pengalaman dan aktivitas-aktivitas kognitif yang baru, dengan cara mengasimilasi dan menggunakan pengalaman-pengalaman ini.

D. SISTEM PENDUKUNG
Data mentah untuk dianalisis, lembar tugas,bahan bahan bacaan, chart. Media dapat berupa media audio maupun visual sesuai dengan materi yang hendak diberikan pada siswa. Fasilitas yang tersedia di sekolah sangat mempengaruhi keberhasilan dalam proses pembelajaran secara induktif.



E. DAMPAK INSTRUKSIONAL DAN PENGIRING
Model pembelajaran dan pengajaran induktif dirancang untuk melatih siswa membuat konsep dan sekaligus untuk me gajarkan konse-konsep dan cara penerapannya (generalisasi) padda mereka. Model ini mengajar minat siswa logika, minat pada bahasa, dan arti kata-kata, dan minat pada sifat pengetahuan. Dampak instruksional meliputi: 1) informasi, konsep, keterampilan, pembentukan hipotesis, 2) proses-proses pembentukan konsep, 3) konsep dan system konseptual, dan penerapannya.
Sedangkan dampak pengiring dari model induktif adalah: spirit penelitian, kesadaran atas sifat pengetahuan, berpikir logis, serta terbentuknya nilai-nilai pendidikan karakter pada diri abak didik.
















III. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Sekolah : SD Negeri Batursari 5
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Smester : 6/ Kedua
Standar Kompetansi : Menulis
Mengungkapkan pikiran dan informasi secara tertulis dalam bentuk teks fungsional dialog pendek sangat sederhana
Waktu : 2 X 35 menit
Hari Tanggal :
A. Kompetensi Dasar
Menyusun teks fungsional (dialog, kalimat langsung, kalimat tak langsung) dengan bahasa yang baik dan benar, serta memperhatikan penggunaan ejaan dan tanda baca.
B. Tujuan Pembelajaran
 Melalui penugasan, siswa dapat mengelompokkan kalimat lanngsung dan tak langsung dari teks bacaan yang tersedia dengan bahasa yang baik dan benar, serta memperhatikan penggunaan ejaan
 Siswa dapat menyusun kalimat langsung dan tak langsung dengan memperhatikan penggunaan ejaan dan tanda baca yang tepat.
 Siswa dapat membuat contoh-contoh kalimat langsung dan tak langsung dengan bahasa yang baik dan benar, serta memperhatikan penggunaan ejaan dan tanda baca
 Karakter siswa yang diharapkan : Dapat dipercaya ( Trustworthines), Rasa hormat dan perhatian ( respect ), Tekun ( diligence ), Tanggung jawab ( responsibility) Berani ( courage ) dan Ketulusan ( Honesty )
C. Materi Pokok
 Teks Bacaan
ALDO ANAK TELADAN

Siang itu Aldo disuruh ibu membeli gula pasir. Ibu berkata, “Aldo, tolong belikan gula pasir!”
“Baiklah, Ibu!” jawab Aldo.
“Satu kilo gram saja, ya!” kata ibu lagi.
“Ya, mana uangnya?” kata Aldo lagi.
Ibu memberikan uangnya. Aldo segera menuju ke warung di ujung kampong itu. Ketika di perjalanan Aldo bertemu Ganar teman sekelasnya. Aldo mengatakan bahwa ia disuruh ibunya membeli gula pasir. Ganar bertanya, “Setelah membeli gula pasir, kamu akan ke mana Al?”
Aldo menjawab dengan lantang, “Membantu ibu di rumah.”
Ganar memandang Aldo yang cepat-cepat mengayuh sepedanya ………………………………………………………………………………………….

D. Langkah-Langkah Pembelajaran
 Kegiatan Awal :
Apersepsi dan Motivasi :
- Tanya jawab tentang kalimat-kalimat yang sering diucapkan anak ketika ketemu temannya di pagi hari.
- Mengajukan pertanyaan tentang kalimat dialog yang dikatakan oleh siswa ketika bertemu gurunya.
- Guru menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.
 Kegiatan Inti :
1. Mengidentifikasi dan menghitung data yang relevan
 Siswa memperhatikan penjelasan guru tentang kegiatan yang akan dilakukan.
 Siswa membaca materi yang disediakan guru.
 Siswa bertanya-jawab karakter seorang anak yang bertanggung jawab dan dapat dijadikan sebagai teladan.
2. Mengelompokkan objek-objek menjadi kategori yang anggotanya bersifat umum
 Siswa mengelompokkan yang termasuk kalimat langsung dan tak langsung
 Siswa menuliskan kalimat langsung di papan tulis.
 Siswa membuat contoh kalimat langsung yang merupakan perilaku dapat dipercaya, dan mandiri.
 Siswa bertanya-jawab mencari kalimat langsung di papan tulis yang benar.

3. Menafsirkan data dan mengembangkan label untuk kategori-kategori
 Siswa menganalisis ciri-ciri kalimat langsung.
 Siswa menganalisis cirri-ciri kalimat tak langsung.
 Siswa menulis pengertian kalimat langsung, dan menyebutkan tanda baca yang tepat.
4. Membangun Hipotesis dan meningkatkan keterampilan.
 Siswa menyusun kalimat langsung dengan kata-katanya sendiri sesuai dengan tanda baca dan ejaan yang benar.
 Siswa menyusun kalimat langsung dengan kata-kata yang berhubungan dengan tanggung jawab, mandiri, dan dapat dipercaya.
 Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang berhubungan dengan kalimat langsung.
 Guru bersama siswa menyimpulkan cirri-ciri kalimat langsung dan tak langsung dengan ejaan dan tanda baca yang benar.

 Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
 Tanya jawab,diskusi,penugasan
 Siswa dan guru mengadakan refleksi tentang proses dan hasil belajar.
 Siswa diberi tugas untuk Menyusun kalimat langsung dalam bentuk dialog.

E. Metode/Sumber Belajar:
 Metode : Tanya jawab,diskusi,penugasan, latihan /Multi metode
 Sumber Belajar : Buku Bina Bahasa Indonesia Kelas 6 B Kurikulum 2006 KTSP, Aku Cinta Bahasa Indonesia.
 Media : chart, teks bacaan




F. Penilaian
Indikator Pencapaian Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Contoh Instrumen
• Siswa mengelompokkan kalimat langsung dan taklangsung
• Siswa menyebutkan cirri-ciri kalimat langsung dan tak langsung
• Siswa menyusun contoh kalimat langsung dan tak langsung
• Lisan
• Tertulis
• Penugasan Lembar penilaian • Bacalah teks bacaan, kemudian kelompokkan yang termasuk kalimat langsung dan kalimat tak langsung!
• Buatlah kalimat lasngung \
• Buatlah kalimat tak langsung.

FORMAT KRITERIA PENILAIAN
 PRODUK ( HASIL DISKUSI )
No. Aspek Kriteria Skor
1. Konsep * semua benar
* sebagian besar benar
* sebagian kecil benar
* semua salah 4
3
2
1
 PERFORMANSI
No. Aspek Kriteria Skor
1.


2.


3. Pengetahuan


Praktek


Sikap * Pengetahuan
* kadang-kadang Pengetahuan
* tidak Pengetahuan
* aktif Praktek
* kadang-kadang aktif
* tidak aktif
* Sikap
* kadang-kadang Sikap
* tidak Sikap 4
2
1
4
2
1
4
2
1



 LEMBAR PENILAIAN
No Nama Siswa Performan Produk Jumlah
Skor Nilai
Pengetahuan Praktek Sikap




Mengetahui Batursari, …………
Kepala SD N Batursari 5 Guru Kelas 6


MARIA ANNA SUWARNI, S.Pd WAHYUNINGSIH RAHAYU, S. Pd
NIP 195905211982012005 NIP 197102071995032003

MENULISLAH GURU



GURU HARUS MAU MENULIS
Oleh: Wahyuningsih Rahayu
Orang bisa saja berbicara lancar untuk mengungkapkan suatu topik permasalahan. Namun, tidak sedikit orang  bahkan Bapak/IBu guru mengalami kesulitan untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Walaupun mereka  sudah terbiasa mengajarkan keterampilan menulis pada siswa.
Seiring dengan  dimulainya  Permenneg PAN & RB No. 16/2009 tentang penilaian kinerja guru di tahun 2013 ini, guru mau tak mau harus mau menulis. Hal ini karena selain guru memiliki nilai bagus dalam kompetensi paedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional, guru juga harus membuat karya yang berhubungan dengan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB).  Semua guru dari TK-SLTA diharapkan mau dan mampu untuk menulis. Apakah yang ditulis?
Banyak hal yang dapat ditulis oleh seorang guru, mulai yang sederhana hingga kompleks. Namun, kenyataan masih banyak guru yang enggan untuk menulis. Menulis merupakan kegiatan penyampaian pesan (gagasan, perasaan, atau informasi) secara tertulis kepada pihak lain. Dalam kegiatan berbahasa menulis melibatkan empat unsur, yaitu penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, medium tulisan, serta pembaca sebagai penerima pesan. Pesan yang harus ditulis oleh guru tentu saja pesan yang berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan.
Yang perlu ditulis guru dalam menuangkan idenya sesuai dengan persyaratan untuk kenaikan pangkat antara lain publikasi karya tulis ilmiah yang dapat berupa laporan hasil penelitian, tinjauan ilmiah, tulisan ilmiah popular, dan artikel ilmiah.  Selain itu, guru juga dapat menulis dari hasil karya inovatif, yang terdiri atas menemukan teknologi tepatguna, menemukan/menciptakan karya seni, membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/ praktikum, dan mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya. Semua karya tersebut dapat ditulis oleh guru sebagai bukti dari kegiatan profesinya.
Untuk bisa menulis persyaratan tersebut, syarat utamanya adalah mau membaca buku. Tanpa mau membaca, maka guru akan mengalami kesulitan dalam menulis. Guru akan dapat menulis dengan lancar apabila mau membaca berbagai informasi. Selain itu kemauan guru modal utama untuk dapat menulis. Guru juga harus menghilangkan rasa tidak pede dengan hasil tulisannya.
Kapan lagi guru mau menulis kalau tidak dimulai dari sekarang. Untuk kegiatan awal menulis, guru harus menanamkan pada dirinya bahwa menulis adalah suatu kebutuhan. Kebutuhan itu haruslah dipaksakan pada diri sendiri untuk dipenuhi. Dari hal yang awalnya terpaksa, maka akan menjadi hal biasa. Apabila guru sudah memiliki kebiasaan menulis maka tertanam dalam dirinya bahwa menulis adalah kebutuhan pokok setiap guru dalam rangka mengemban amanat sebagai tenaga profesional dalam bidang pendidikan. Hasil tulisan guru selain untuk persayaratan kenaikan pangkat, pemerintah juga memberikan apresiasi yang bagus dalam bentuk lomba dengan hadiah yang hebat, seperti lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran tingkat nasional, sayembara buku pengayaan untuk guru oleh Pusbuk, lomba inovasi pembelajaran tingkat provinsi, dan lain-lain. Selain itu menulis juga untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan orang lain yang  membacanya. Untuk itu, semua guru harus mau menulis mulai sekarang. Berani mencoba menulis berarti mengawali suatu kesuksesan bagi guru! Penulis: Wahyuningsih Rahayu, S.Pd, M. Pd. KEPALA SEKOLAH SD Batursari 3 Demak